Susiku Mabur!!! (Susiku Terbang)
Saat kecelakaan yang menimpa Susi Air, Jumat (09/09/11) gencar diberitakan baik oleh media cetak maupun elektronik, saya belum ‘ngeh’ apa itu Susi Air. Saya belum tahu kalau nama pemiliknya bernama Susi. Buru – buru teman saya yang memberitahu soal itu.
OOoo… saya jadi penasaran siapa itu Susi? yang jelas bukan Susi Similikiti weleh weleh istrinya Tukul si bukan Empat Mata.
Siapa Susi?
Bernama lengkap Susi Pudjiastuti. Orang jawa yang lahir, tumbuh berkembang di Pangandaran 46 tahun silam. Tepatnya pada tanggal 15 Januari 1965. Anak sulung dari tiga bersaudara dari pasangan Haji Karlan dengan Hajjah Suwuh Lasminah.
Susi Pudjiastuti hanya menamatkan pendidikan formalnya di kelas 2 SMAN 1 Yogyakarta, sehingga dia hanya mempunyai ijazah SMP saat ini. Namun saat ditanya perihal sebab drop out nya dari bangku SMA, senyum penuh arti jawabannya. Bukan karena malas, bukan karena kurang dana, bukan pula akibat nikah muda. Namun memang itu jalan yang dipilihnya.
Gelang Keroncong modalnya
Pengandaran merupakan pasar petensial dengan hasil lautannya. Tempat dimana ratusan nelayan tiap harinya merapat dengan hasil tangkapannya. Hal ini lah, pada tahun 1983, dengan bermodal 750 ribu dari hasil menjual gelang keroncong dan beberapa perhiasan miliknya, Susi muda menjadi ‘bakul’.
Profesi yang banyak digeluti oleh wanita-wanita Pengandaran, menjadi pengepul ikan tangkapan nelayan. Tidak mudah pada awalnya Susi untuk bersaing dengan bakul – bakul yang lebih dulu eksis. Namun bukan Susi namanya kalau hanya pasrah. Terbukti, hanya dalam setahun dia sudah menguasai pangsa pasar Pengandaran. Bahkan pasar Cilacap juga dijajahnya.
“Hidup terus bergerak. Puncak – puncak pencapaian harus diciptakan tiap hari”
Ungkapan filosofi dari seorang Susi. Setelah sukses dengan bisnis perikanannya hingga menjadi pemasok resmi pasar ikan di Jakarta, Susi tidak mau tinggal diam. Diapun melebarkan sayapnya menjadi pemasok paha kodok dan sarang burung walet, juga membuka sebuah restauran seafood di pantai Pengandaran.
Selama 12 tahun Susi pulang pergi, Pengandaran – Jakarta. Menjadi pemasok utama pasar ikan, restauran dan pabrik – pabrik pengolahan ikan untuk ekspor di Jakarta, khususnya Lobster.
Tahun 1996, berdirilah pabrik pengolahan ikan milik Susi. Pabrik ini berdiri di samping pekarangan rumah miliknya yang berada di Pengandaran. Susi Brand merupakan nama produk yang dilahirkan oleh pabrik ini. Sebuah brand produk seafood yang mampu menembus ketatnya pangsa pasar negeri Sakura, Jepang. Tidak hanya lobster beku namun juga produk olahan ikan lainnya. Sebuah prestasi tersendiri.
Motor mabur
Pertemuan dengan Christian von Strowberg di Pangandaran yang akhirnya menjadi suami ketiga Susi inilah yang membantu Susi untuk menggapai mimpinya. Mimpi akan motor mabur. Punya pesawat terbang sendiri. why not?
Christian, bule asli Jerman yang saat itu bekerja di IPTN sebagai pilot dan engineer yang tentunya mempunyai skill dan pengetahuan mengenai pesawat mendukung Susi untuk mengajukan proposal pinjaman ke bank untuk membeli pesawat pertamanya. Pesawat yang akan digunakannya untuk mengangkut ikan segar dari penjuru tanah air. itu tujuan awalnya.
Empat tahun perjuangannya untuk mengajukan proposal pinjaman dari bank untuk membeli pesawat. Dan semuanya ditolak. Akhirnya pada 2003, seorang pengusaha nasional memberikan dana pinjaman. Sebuah pesawat Cessna Caravan buatan USA, seharga Rp20 miliar resmi menjadi milik Susi Pudjiastuti.
Susi Air
Berawal pada satu pesawat dengan kapasitas 12 seat. Berawal dari suaminya sendiri yang menjadi pilot untuk pesawat pertama mereka. Berawal dari angkutan untuk ikan segar dari penjuru perairan Indonesia. Berawal dari peristiwa Tsunami di Aceh tahun 2004. Susi Air berdiri.
Saat itu, nama Susi dengan pesawat Cessanya, identik dengan angkutan bantuan kemanusiaan di daerah gempa. Nama Susi Air sendiri didapatnya secara tidak sengaja lewat penyewa pertama di Aceh. Lahirlah nama maskapai baru, Susi Air.
Dari sebuah pesawat yang disewakan untuk melayani dan membuka jalur udara vital dalam penanganan pasca Gempa dan Tsunamai Aceh, hingga gempa di Nias pada Mare 2005. Susi Air tumbuh dan berkembang.
Pertengahan 2005 Susi Air menambah armandanya dengan 3 pesawat lagi dan memulai membuka penerbangan berjadwal ke Medan. 2006 jalur tersebut dialihkan ke Jayapura, Irian Barat. Karena kerja kerasnya, tahun 2007 bertambah dua armada. Cessna dan DA42 Twin Bintang.
Tidak sampai disini. Tahun 2009 otoritas Paris Air Show merilis berita tertanggal 16 Juni 2009 sebagai berikut: “Indonesia’s Susi Air Takes 30 Grand Caravan and an Avanti II” . Ternyata ibu Susi Pudjiastuti habis memborong pesawat di gelaran Paris Air Show. Saya baru bisa memborong gorengan sama gerobak – gerobaknya, lah ini Ibu Susi sudah bisa ngeborong pesawat beserta isinya. Hehehehe
Pilot dan pesawat tidak bisa dipisahkan, bagai gula dan semut. Untuk itu pada tahun 2008 ibu Susi mendirikan sekolah penerbangan. Lagi – lagi namanya ada Susinya, iya Susi Flaying School, Dibawah manajemen PT ASI Pudjiastuti Flaying School.
Setelah menjadi Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan Susi Brandnya. Lantas menjadi Presdir PT ASI Pudjiastuti Aviation dengan Susi Airnya. Selanjutnya menjadi Dirut dari PT ASI Pudjiastuti Flaying School dengan sekolah penerbangnya. Mau apa lagi ibu?
“Anakku wes iso mbabuuurr duwur. Matur nuwun Gusti Allah!!!!” (anakku sudah bisa terbang tinggi. Terima kasih Allah). Mungkin ini teriakan syukur almarhumah Hajjah Suwuh Lasminah kepada anaknya saat ini..Susi Pudjiastuti.
Sumber referensi : Femina Online / Susi Air /













Semoga lahir Susi..Susi..dan Susi yang lain