Pertarungan Berat Bang Foke di Ronde Dua

Kemeja Kotak-kotak

Mungkin sudah banyak yang menduga bahwasanya Jokowi-Ahok bakal mendulang suara mayoritas meskipun tidak mencapai 50 % lebih suara. Saya pun termasuk yang mempunyai dugaan seperti itu, Jokowi bakal melaju menjadi kandidat terkuat dan terbukti sudah, fakta hasil perhitugan cepat sudah berbicara.

Sebelumnya, mendekati hari H pencoblosan banyak lembaga survei yang merilis hasil bahwa pasangan incumbent Foke – Nara bakal menang mutlak dan mudah, sehingga tidak memerlukan dua putaran. Ternyata….senyum Jokowo – Ahok mampu membalikkan hasil survei beberapa lembaga survei. Sebaliknya, hasil perolehan suara calon dari kubu kotak-kotak unggul jauh dari pasangan “kumis” yang merupakan sang juara bertahan. Tidak perlu terkejut kawan :p

Penyebab kekalahan Foke – Nara

Apakah partai pengusung berperan penting dalam mendorong calonnya memperoleh kemenangan? Jawabnyannya bisa iya bisa pula tidak. Dalam kasus kekalahan Foke terhadap Jakowi hal ini bisa saja jawabannya iya.

Demokrat sebagai pengusung utama pasangan nomer satu dan incumbent ini akhir-akhir ini babak-belur dihujani kasus korupsi yang menimpa beberapa kadernya, termasuk ketua umumnya saat ini Anas Urbaningrum. Amunisi Partai Demokrat tentunya tidak sekuat saat Partai ini memenangi pemilu 2009 lalu. Penggerak mesin partai yang seharusnya menjadi tim sukses dari Foke – Nara telah terbuang tenaganya untuk memperbaiki citra partai yang terus merosot. Sedangkan pemilu 2014 sudah di depan mata tentunya.

Itu yang pertama. Yang kedua, penyebab keoknya “Si Kumis” lebih pada sosok itu sendiri. Iya..sosok Foke yang selama lima tahun kepemimpinannya ternyata belum bisa memberikan perubahan yang berarti terhadap Jakarta. Padahal seorang Fauzi Bowo seharusnya lebih dari mampu untuk membawa Jakarta menjadi kota yang lebih beradab. Bang Foke sangat berpengalaman dengan Jakarta. Dan mungkin dari 6 calon peserta Pilkada ini hanya beliau yang sangat berpengalaman dalam mengelola Jakarta. Lihat saja rekam jejak beliau dalam pemerintahan DKI Jakarta:

  • 2007-2012 Gubernur DKI Jakarta
  • 2002-2007 Wakil Gubernur DKI Jakarta
  • 1998-2002 Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) DKI Jakarta
  • 1993-1998 Kepala Dinas Pariwisata DKI
  • 1986-1988 Pejabat Kabiro Kepala Daerah DKI
  • 1982-1986 Pejabat sementara (Pjs) Kabiro Kepala Daerah DKI
  • 1979-1982 Kepala Dinas Pariwisata DKI
  • 1979-1982 Pelaksana tugas Kepala Biro Kepala Daerah DKI

Dari tahun 1979 Bang Foke telah ikut andil dalam mengelola Jakarta, meskipun baru dalam lima tahun terakhir Fauzi Bowo memegang tampuk kekuasaan dan kebijakan tertinggi kota DKI Jakarta. Namun apa yang di dapat warga Jakarta? Masih sama dengan tahun-tahun lalu. Warga butuh perubahan. Warga memerlukan muka baru yang setidaknya memiliki rekam jejak yang lebih menjanjikan. Dan sosok itu ada pada pribadi Jokowi, sang Walikota Solo.

Ketiga. Fauzi Bowo dalam kampanyenya kemarin masih sering mengusung isu SARA, kesukuan bukan nasionalis yang digembar-gemborkan. Hal tersebut merupakan kampanye gaya konservatif, kuno. Padahal Jakarta bukan hanya milik suku tertentu, yang parahnya suku yang katanya asli si empunya Jakarta saat ini menjadi suku minoritas di kampungnya sendiri. Ini yang tidak menjadi acuan Foke dan tim suksesnya dalam menggalang massa warga Jakarta. Foke dan tim suksesnya lupa kalau Jakarta merupakan kota majemuk dengan berbagai suku bangsa berdiam dan ber-KTP DKI Jakarta.

Cukup tiga penyebab tersebut menjadi catatan tim sukses Foke – Nara bila ingin di putaran ke-dua Pilkada DKI Jakarta mampu bersaing dengan pasangan Jokowi – Ahok yang diusung PDIP dan Gerindra. Diperlukan solusi dan koalisi dengan partai pengusung calon yang sudah tersisih di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta.

Beratnya ronde dua untuk Foke

Foke dan Nara memang belum habis, masih ada ronde ke-2. Namun ronde kedua akan menjadi lebih berat untuk pasangan ini sukses memenangi pertarungan untuk menjadi DKI 1. Apalagi Jokowi dengan cerdasnya telah melakukan monuver cerdas dengan mendekati pasangan calon Gubernur DKI Jakarta yang menjadi saingannya dari kubu PKS, Hidayat Nur Wahid. Lagi-lagi Foke ketinggalan langkah dari wong Solo ini.

Ya..inilah serunya sebuah proses demokrasi dalam Pilkada DKI Jakarta. Sejatinya tidak ada yang kalah, namun hanya kurang dukungan saja. Warga DKI menginginkan perubahan, dan itu pasti. Perubahan adalah hal pasti, tidak ada yang mampu menghalanginya. Dan apakah warga DKI siap dengan sosok baru yang akan memberikan perubahan tersebut?

Kita tunggu di pertarungan ronde ke-2 pada 20 September nanti(bila memang hasil resmi Pilkada mengharuskan demikian). Pertarungan antara Foke sebagai juara bertahan versus Jokowi sebagai penantang utama. Mampukah Foke mempertahankan sabuk DKI-1? Ataukah Jokowi siap meng- KO si Kumis dengan kemenangan mutlak? Kita lihat nanti dan semoga saja pertarungan ronde kedua berlangsung secara sportif.

Untuk Demokrat, sekali lagi jangan jadikan masa libur sekolah sebagai kambing hitam kekalahan Foke di ronde pertama ya?

0
0
  

4 Responses to Pertarungan Berat Bang Foke di Ronde Dua

  1. bersikap sportif saja yaa…itu lebih baik…

  2. adi says:

    Cukup obyektif. Salute ….

  3. kokiimut says:

    FOKELAH klo begitu :D …heheheh

  4. yang penting jujur ajalah siapa yang menang memang pilihan rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*



You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

What is 8 + 9 ?
Please leave these two fields as-is:
IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human not alien) hohohoho :)