Mengapa Harus Meributkan Surga atau Neraka?
Beberapa minggu lalu ada seorang kawan bertanya kepada saya, “Seandainya Allah menghendaki anda masuk neraka, apakah menerima? tolong dijawab Ya atau Tidak”
BLAAARRR!!! bagai disambar bus Transjakarta sayapun terhenyak; “masih ada pertanyaan konyol macam ini di era kedewasaan beragama saat ini.”
Sebenarnya apa surga dan neraka itu? masih saja sudah pada gede masih sibuk rebutan surga dan neraka. Sampai ada yang bunuh-bunuhan hanya karena rebutan patok surga. Saling klaim surga hanya milik dia dan kelompoknya. Masih saja banyak orang yang disesatkan oleh keindahan surga, tidak sadar kalau tangan iblis memegang ubun-ubunnya dan dijerembabkannya manusia itu ke dalam hawa nafsunya akan surga yang ternyata hanya angan-angannya saja.
Kalau di Islam gambaran surga itu serba indah: ada bidadari yang menemaninya, ada sungai dengan air jernih mengalir di sekitar kita, ada buah-buahan yang tinggal dipetik tanpa perlu pinjam tangga ke sebelah rumah buat manjat. Ada minuman khamar yang tidak memabukkan. Tentu bayangan yang indah bukan?
Indah buat mereka-mereka kaum padang pasir yang serba gersang, tandus, kering dan sulit air. Makanya surga digambarkan kebalikannya dari keadaan mereka. Surga seperti yang terlukis dalam Quran itu hanyalah gambaran kebenaran akan surga. Sekali lagi hanya gambaran, bukan surga itu sendiri. Kenapa saya berpendapat seperti itu mudah saja, manusia hidup belum ada yang benar-benar melihat surga atau neraka. Cukum mengimaninya. Akur?
Jadi tolong dibedakan antara surga dan gambaran surga.
Coba kita berpikir keluar kardus…. maksudnya out of the box. Seandainya Nabi Muhammad SAW tidak turun di tengah – tengah suku Quraisy yang menguasai padang pasir, tapi turun di Siberia yang tahu sendiri serba dingin kagak ketulungan, bisa jadi gambaran akan surga berbeda jauh. Mungkin gambaran surga penuh dengan tungku perapian nan hangat dan nyaman yang apinya tiada pernah padam.
Surga itu manifestasi dari hadiah. Neraka kebalikannya, manifestasi dari hukuman. Gambaran tersebut hampir sama dengan iming-iming hadiah dan wanti-wanti hukuman agar anak-anak nurut kepada ucapan orang tuanya. Pola pikir yang belum dewasa akan sebuah keharusan untuk berbuat kebajikan kepada sesama itulah yang memunculkan adanya gambaran tentang surga – neraka dan lahirnya agama-agama juga kepercayaan di bumi ini.
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Al-Baqarah : 148]
Beribadah bukan hanya membicarakan tentang; Sholat, puasa, zakat, baca Quran dan naik Haji. Namun berbuat baik kepada sesama, kepada tetangga, kepada keluarga, bekerja dengan jujur itu juga ibadah. Menolong tetangga yang berbeda keyakinan saat sedang kesusahan juga ibadah. Semua itu adalah kebajikan untuk mengisi dunia. Beribadah dan berbuat kebajikan seharusnya sudah bukan untuk mengejar surga dan menghindar dari neraka, itu levelnya untuk anak TK. Kalau kita sudah dewasa dalam beribadah yang kita cari hanya satu, ridho Allah. Cukup!
Bayangkan bila orang tua ridho dengan tindakan kita, apa yang kita lihat? senyum bangga yang tulus buat anaknya bukan? nah seperti itu gambaran Ridho Allah kepada kita..pasti dingin hati ini dibuatnya.
Surga dan neraka itu sebuah kebenaran namun menjadikannya berhala hingga lupa daratan itu sebuah kesia-siaan. Saling sikut, saling hina dan saling bunuh demi sebuah surga dan mengolok-olok mereka yang berseberangan untuk segera masuk neraka. Buat apa?
Kembali kepertanyaan di awal artikel ini “Apakah saya bersedia?” Tentu saya tegas menjawab bersedia.
Bukan tidak ingin surga-NYA. Bukan perkara sombong dan belagu, namun bila memang ini kehendak-NYA saya tidak bisa berbuat apa kecuali mengharap ridho Allah semata. Saya tidak ingin berlaku layaknya iblis yang enggan menerima perintah-NYA untuk hormat kepada Adam dahulu kala saat pertama kali Adam tercipta.
Di nerakapun bila saya dikehendakinya berdiam di sana — bukan karena kesengajaan yang saya buat, namun karena Ridho-NYA — pasti saya akan berjumpa dengan DIA. Jangan pernah lupa kalau DIA meliputi segalanya. Segalanya ini hanyalah DIA..oh ternyata.
Masihkah berebut surga?











suka paragraf ke sepuluh , setuju sekali
aku selalu berusaha menghindar kalau ada yg memulai bicara tentang surga atau neraka, karena biasanya akan ada perselisihan di belakangnya krn ada yg merasa lebih tahu dan lebih benar versinya, buang buang waktu mnrtku
Iya bu… masalah agama atau surga neraka memang bukan untuk diperdebatkan namun lebih kepada untuk dijalankan dan diamalkan sebaik-baiknya.
Seperti prdebatan tentang singkong. Si A bilang kalau singkong hanya cocok dijadkan tape atau peyeum. Si B berkata singkong itu cocok dan punya harga jual lebih tinggi bila diolah menjadi kripik…ya seperti itu deh
Saya suka singkong. Digoreng kering jadi kripik, boleeeh… dijadiin tape juga boleh…
(dasar anak singkong).
Tapi pertanyaan temen ente memang aneh, Sob. Siapa yang mau masuk neraka? Rasulullah tidak mau, Iblis pun tidak mau koq. Wkwkwkw…..
Singkong..hmm cukup digoreng kecil2…enaknyaaa.Apalagi musim hujan gini…ditemani kopi hitam…mantab!! :p
Mengenai surga dan neraka…biarkan tetap menjadi hak prerogatif dari Gusti Allah
akhirnya keluar juga artikel ini mas…hehehe. yang pasti dan jangan lupa surga itu ada di telapak kaki ibu ….hehehe…ga nyambung ya
Inggih beib…maknya mas saya ibu takut..wekekeke
Menurut saya tidak salah jika kita membicarakan tentang gambaran Surga, kenikmatan2 dan janji Allah yang akan kita dapatkan ketika memasukinya.. Toh Allah sendiri banyak mengulang2 dlm firman-Nya mengenai balasan Surga ini kepada manusia… Mengapa? tentu saja agar manusia bertambah rindu akan balasan yg akan didapatkannya jika menaati Allah, sebagai pemacu semangat dan pendorong agar terus meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah…
Saat Rasulullah sedang dalam masa duka, ketika ditinggal oleh istrinya, Khadijah, dan juga paman yang selalu melindungi beliau, Abu Thalib. Allah menghibur hati beliau dengan Isra Mi’ra, dimana selain mendapat perintah Shalat, beliau juga Allah perlihatkan akan Surga… yah…SURGA…
Ketika awal dakwah di Mekkah, Rasulullah tidak lah membahas mengenai hukum dan larangan. Tapi beliau menanamkan iman dan keyakinan, akan hari akhir, dimana konsekuensi dr kehidupan yg dipilih manusia akan berakhir pada surga atau neraka, disitu timbul rasa takut akan neraka dan harap akan surga… betapa seringnya Rasululllah menyemangati sahabat dengan nikmat Surga ketika ujian mendera dan kesulitan menghadang…
Saat menghadapi musuh yang jumlahnya lebih banyak dari pasukan Muslim, para sahabat memotivasi diri mereka sendiri dengan mengatakan, “Wahai jiwa, disana… di barisan musuh sana.. aku mencium baunya Surga..”
So,,,,saya rasa berharap Surga dalam beribadah bukan lah untuk level anak TK seperti yg antum katakan, benar bahwa kita beribadah hanya untuk mengharap ridho Allah saja… Namun jika kita tidak boleh mengharapkan surga mengapa begitu banyak ayat2 dalam Qur’an yang memotivasi kita untuk terus beramal saleh demi balasan SURGA….
Wallahu ‘alam bi shawab
Terima kasih masukannya Vanilla.
Nah sebenarnya jawabannya sudah ada pada komentar anda lho.
————
Ketika awal dakwah di Mekkah, Rasulullah tidak lah membahas mengenai hukum dan larangan. Tapi beliau menanamkan iman dan keyakinan, akan hari akhir, dimana konsekuensi dr kehidupan yg dipilih manusia akan berakhir pada surga atau neraka, disitu timbul rasa takut akan neraka dan harap akan surga
————–
Pada awal dakwah Nabi Muhammad menghadapi umat yg memang masih awam dalam keimanan dan mengenal Tuhannya..makanya surga dan neraka menjadi acuan. Sama persis kita memberi pelajaran kepada anak kecil. Baik dan buruk dengan konsekuensi selalu kita tekankan.
Tentu saat sesudah dewasa maka acuan kenapa kita beragama sudah berbeda lagi dengan anak kecil tadi.
Demikian.