Wisata & Kuliner

Lapak Puncak Batur, Sahabat Sejati yang Terkenang

wide2

Jarum jam menembus waktu dini hari. Bulan selingkaran penuh sore tadi tak lagi terlihat, hanya gelap terselimut kabut pekat yang terbawa oleh angin lembah. Meja, bangku panjang teronggok kosong.  Terbaring tubuh lelah dalam jaket, mimpinya lelap. Dua jarak langkah kecil di depannya, meringkuk tubuh lain dalam kantung tidur biru, hangat. Sedang aku, mata ini belum mampu terpejam…..

Satu, dua lolongan anjing bergema di bawah sana. Pijar lampu berderet rapi di seberang danau, remang menembus kabut seperti kunang-kunang malam yang enggan terbang.

0
0
  

Gunung Karang, Biarlah Misteri itu Tenang di Sana (#3)

GKarang2004

Aroma kopi menyebar menelusuk lubang hidung, naik hingga ke pusat saraf membuat mata terbelalak dan otot – otot persendian siap untuk beraksi. Tebasan demi tebasan golok, selangkah demi selangkah perdu-perdu  setinggi dua meteran berhasil kami terobos. Bergantian antara saya dengan Upri, saat Upri beraksi saya jadi mandor sambil ngopi dan ngerokok. Tapi saat saya nguli tebang, gantian Upri yang jadi mandornya. Inilah enaknya naik gunung tidak sendirian ada teman untuk berbagi.

Terowongan…iya kepungan perdu yang kami terabas dengan golok mirip terowongan jadinya, muat untuk badan dan tas keril kami. Kira – kira 50 meter menerobos kepungan,  akhirnya terowongan yang kami buat bergantian berujung cahaya terang, padang rumput seperti lapangan terlihat di ujung sana.

+1
-1
  

Gunung Karang, Biarlah Misteri itu Tenang di Sana (#2)

GKarang2004

Ladang itu terlihat sepi, sunyi. Nampak gubuk kecil berdiri rapuh, namun tidak ada penunggu di dalamnya. Ladang kosong tanpa ada tanaman yang sengaja tertanam di sana. Ladang tersebut tandus, berbeda dengan di bawah tadi yang basah dan rimbun ilalang juga pohon-pohon perdu. Mungkin ladang yang sudah tidak lagi produktif. Ada ember tergeletak di pojok gubuk dengan sedikit air hujan yang menggenang. Kami menumpang sejenak di gubuk tersebut untuk melaksanan Sholat Dhuhur secara tayamum.

Perjalanan masih panjang jenderal!

0
0
  

Gunung Karang, Biarlah Misteri Itu Tenang di Sana(#1)

GKarang2004

Dua ojek melaju pasti dengan kecepatan konstan menandakan pengemudi sangat paham betul medan yang dilaluinya. Betotan gas membuat dua laki-laki penumpang dengan dua tas keril setinggi anak usia 5 tahun tergoncang-goncang dibuatnya. Di ujung dusun yang sepi dua ojek itu berhenti, di depannya jalan setapak kecil disebelah bongkahan batu besar nampak terlihat mengintip. Kalau kurang awas mungkin kami tidak akan melihat jalan tersebut, batu besar itu seolah-olah menutupinya.

“Benar mas hanya berdua yang mau naik?” seakan belum percaya juga, lagi-lagi tukang ojek menanyakan hal yang sama kepada kami.

“Benar pak, hanya berdua”

0
0
  

Gili Trawangan; Bermain dengan Pasir Putih

Gili Trawangan

Berlibur = mahal?

Mahal bukan karena tidak punya uang, tapi karena berlibur adalah sesuatu yang jarang bisa saya peroleh saat ini, semenjak lulus dari bangku perguruan tinggi.

Kami adalah pasangan yang suka jalan-jalan, pasangan backpaker kalau orang bilang. Menikmati keindahan alam sembari melepas penat oleh ramai dan bisingnya tempat kami tinggal saat ini, yang kami menyebutnya, Kota.

+1
0